Kamis, 08 April 2010

KERANGKA KHOTBAH 11-22_reny


Kerangka Khotbah 11
Tema : Teguran Kasih.
Introduksi : Seringkali orang tua mengartikan kasih dengan cara yang salah, dengan alasan begitu mengasihi putra/putri mereka, mereka tetap membela putra/putri mereka walaupun terbukti bersalah. Ini bukanlah kasih yang sesungguhnya, Allah tidak mengajarkan kepada kita kasih seperti ini.
Proposisi : Menegur orang yang bersalah menunjukkan bahwa kita mengasihi mereka.
Transisi : Bagaimana mungkin menegur orang yang bersalah menunjukkan bahwa kita mengasihi mereka ???
MP : Allah menegur orang yang dikasihi-Nya(Wahyu 3:19)




Kerangka Khotbah 12
Nats : 2Korintus 4:16-18
Tema : Penderitaan yang Menguntungkan
Introduksi : Banyak sekali orang yang menderita dan stres saat ini. Kita tahu pasien Rumah Sakit Jiwa bertambah, bukan ? Kita tau semakin banyak orang yang bunuh diri, bukan ?
Proposisi : Setiap Rayser akan menerima keuntungan dari setiap penderitaan yang dialami bersama Kristus.
Transisi : Apakah keuntungan yang akan Rayser terima ??
MP : Kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari penderitaan kami(2Kor 4:17).
(Jika kemuliaan kekal lebih besar dari penderitaan berarti kita beruntung).

Kerangka Khotbah 13
Tema : Benteng Pertahanan Orang Percaya
Introduksi : Dalam setiap peperangan, benteng pertahanan sangat diperlukan. Benteng pertahanan berfungsi melindungi para prajurit dari serangan musuh. Karena itu benteng pertahanan selalu dibangun dengan kokoh agar fungsinya untuk melindungi tersebut semakin maksimal.
Proposisi : Allah adalah benteng pertahanan kita
Transisi : Mengapa ???
MP : Karena Allah melindungi kita(Ezra8:31, Mazmur34:21, Mazmur46:2)



Kerangka Khotbah 14
Nats : 2Raja-raja 25:27-30
Tema : Berbelas Kasihlah
Introduksi : Setiap hari kita melihat banyak pengemis di kota Samarinda, dan pastinya jauh lebih banyak lagi jumlah pengemis yang akan kita temui di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Pengemis-pengemis ini adalah orang-orang yang memohon belas kasih kita dan kita perlu menunjukkan belas kasih kepada orang-orang disekitar kita(bukan hanya kepada pengemis) diwaktu dan dengan cara yang tepat.
Proposisi : Setiap orang percaya dapat menunjukkan belas kasihnya kepada sesama
Transisi : kita dapat menunjukkan belas kasih kepada sesama dengan melakukan hal-hal berikut,
MP 1 : Melepaskan pengampunan(ayat 27)
MP 2 : Bicara baik-baik(ayat 28a)
MP 3 : Memberikan kepercayaan(ayat 28b)




Kerangka Khotbah 15
Nats : Mazmur 23:1-6
Tema : Gembala yang Baik
Introduksi : Gembala adalah orang yang bertugas menjaga kambing domba, menggiring ke padang rumput dan kembali ke kandang. Kita seperti kambing domba, sering jatuh dan tersesat, perlu dibimbing dan diarahkan.
Proposisi : Kita memiliki Allah yang adalah Gembala yang Baik
Transisi : Mengapa Allah disebut Gembala yang Baik ???
MP 1 : Ia membimbing kita(ayat 2)
MP 2 : Ia menuntun kita(ayat 3)
Aplikasi : Oleh karena itu sembahlah Allah selama-lamanya(ayat6).
Diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa = menyembah Allah selama-lamanya.


Kerangka Khotbah 16
Nats : Yohanes 6:60-66
Tema : Pengikut-pengikut yang Lemah
Introduksi : Sepanjang sejarah, kita tahu terdapat banyak guru dan pemimpin- pemimpin yang memiliki sejumlah besar murid/pengikut, Sidharta Gautama(pendiri agama Budha) salah satunya. Namun tidak semua murid/pengikut yang bertahan sampai akhir, ditengah perjalanan banyak diantara mereka yang menjadi lemah lalu menyerah, salah satu sebabnya mungkin karena mereka merasa tidak sanggup menerima pengajaran yang keras, seperti yang terjadi pada murid-murid Yasus di Galilea.
Proposisi : Rayser bukan murid-murid yang lemah !!!
Transisi : Mengapa Rayser dikatakan bukan murid-murid yang lemah ?
MP 1 : Rayser setia dalam doa
SP 1 : Doa Semalaman(setiap kamis malam)
SP 2 : Doa pribadi di rumah
Firman Tuhan dalam Matius6:6 berbicara tentang doa(buka dan bacalah).
MP 2 : Rayser setia dalam puasa
SP 1 : Puasa bersama(setiap hari kamis)



Kerangka Khotbah 17
Nats : Mazmur 67:2-8
Tema : Bersyukurlah !
Introduksi : Suatu hari seseorang pernah bercerita tentang kisah hidupnya : “Ketika saya kuliah dulu, saya tidak mempunyai uang untuk makan, saat itu seorang teman mengajak saya untuk makan dirumahnya. Sebelum makan adik kecilnya berdoa : ‘Bapa, terima kasih untuk nasi, ikan, sayur, minuman yang telah Engkau sediakan…dan terima kasih untuk Om yang numpang makan disini hari ini, Amin.”^_^sungguh polos doa anak ini, mungkin ia belum mengerti cara berdoa, namun ia mengerti cara bersyukur.
Proposisi : Segala bangsa akan bersyukur kepada Allah.
Transisi : Mengapa segala bangsa akan bersyukur kepada Allah ???
MP : Allah memberkati kita(ayat 7-8)



Kerangka Khotbah 18
Nats : 1Raja-raja 17:1-6
Tema : TAAT
Introduksi : Apa itu TAAT ???menjalankan semua peraturan.
Salah satu peraturan lalu lintas yang terbaru adalah “Belok kiri ikuti isyarat lampu.” banyak sekali orang(termasuk saya^_^) yang tidak menaati peraturan ini, terutama ketika jalan sedang sepi:”Ngapain ngikutin isyarat lampu, kan sepi, gak ngaruh juga,” begitulah seringkali pikiran saya.
Proposisi : Kita akan TAAT walaupun tampak mustahil.
Transisi : Bagaimana kita TAAT ketika tampaknya mustahil
MP : Teladanilah Elia(ayat5).
Pergi saja dan lakukan seperti Firman Tuhan maka tidak mustahil untuk tetap TAAT.



Kerangka Khotbah 19
Nats : Titus 2:11-15
Tema : Didikan Setelah Pernyataan Kasih Karunia
Introduksi : Didikan adalah ajaran yang kita terima dari orang-orang yang lebih mengetahui/lebih dahulu belajar tentang hal-hal tertentu sperti ilmu alam, olahraga, filsafat dan sebagainya.
Proposisi : Semua oaring percaya menerima didkan Allah
Transisi : Apa saja didikan Allah tersebut ???
MP 1 : Meninggalkan kefasikan dan keinginan duniawi(ayat12a)
MP 2 : Hidup bijaksana, adil dan beribadah(ayat12b)



Kerangka Khotbah 20
Nats : Hakim-hakim 9:50-57
Tema : Allah yang adil
Introduksi : Apa yang anda pikirkan saat mendengar kata “pengadilan” : ada orang yang diadili_tersangka/terdakwa, ada orang yang meminta keadilan, meja hijau, hakim, jaksa, dsb. Lalu apakah pengadilan selalu adil? Tampaknya tidak lagi di masa sekarang ini.
Proposisi : Kita memiliki Allah yang adil.
Transisi : Bukti keadilan Allah adalah…
MP : Allah membalaskan kejahatan pada orang yang pantas menerimanya (ayat 56-57).



Kerangka Khotbah 21
Nats : Matius 21:33-46
Tema : WASPADA !!!
Introduksi : “Kejahatan terjadi bukan karna ada niat pelakunya, tapi karna ada kesempatan.”demikianlah yang sering kita dengar dari Bang Napi mengenai kejahatan. Jangan berikan kesempatan pada iblis untuk merebut kemerdekaan kita/tahta kita dalam Kerajaan Allah.
Proposisi : Tidak ada kesempatan bagi iblis untuk merebut tahta kita dalam Kerajaan Allah.
Transisi : Mengapa demikian ??
MP : Kita selalu waspada(Amsal 4:23)



Kerangka Khotbah 22
Tema : Selalu ada jalan keluar dalam Tuhan
Introduksi : Kita sering menemui jalan buntu. Saat ada masalah, kita bingung bagaimana cara menyelesaikannya. Saat orang-orang disekitar menuntut dan menekan kita, kita tak tau apa yang harus diperbuat.
Proposisi : Dalam Tuhan ada jalan keluar dari setiap masalah kita.
Transisi : Benarkah Tuhan memiliki jalan keluar dari setiap masalah kita ?
MP : Ya, Tuhan membuktikan pada Musa(Keluaran 17:4-6)
Saat orang-orang Israel bersungut-sungut pada musa karena mereka kehausan, Musa berseru pada Tuhan, dan Ia menunjukkan jalan keluar.
Aplikasi : Berserulah pada Tuhan.

Selasa, 06 April 2010

Rabu, 31 Maret 2010

artikel tentang khotbah. Yosia. bag 2

KHOTBAH ?!
Setiap kali Firman Tuhan dikotbahkan, setiap kali pula hati kecil manusia menjadi bahagia, luas dan pasti di hadapan Allah, karena Firman itu penuh kasih karunia, pengampunan serta kata-kata yang baik dan bermanfaat – Martin Luther
 Renungan, Seputar Definisi
Topik yang diberikan kepada saya adalah: Membuat dan Menyampaikan Renungan secara Praktis. Tentang apa maksud renungan, kiranya telah dianggap jelas. Yaitu, sebuah uraian singkat terhadap teks Alkitab. Namun, apa yang disebut singkat? Secara waktu atau ayat? Apakah hal itu membuatnya dimengerti secara berbeda dengan khotbah?

Tradisi protestan tidak mengenal pembedaan antara khotbah panjang atau pendek. Semuanya disebut sebagai pemberitaan firman. Dalam hal ini tidak juga dibedakan siapa yang menyampaikan khotbah, ”awam” ataupun klerus. Dengan demikian, renungan adalah pemberitaan firman yang sama saja artinya dengan khotbah.

 Khotbah, Selayang Pandang
Catatan sejarah menyatakan bahwa praktik khotbah telah berlangsung sebelum hadirnya agama kristen. Setidaknya mulai muncul pada tradisi ibadah Yahudi. Itupun terjadi setelah berlangsung krisis identitas karena berbagai peristiwa pembuangan. Akibat tragedi pembuangan itu, sebagian besar generasi muda tak lagi mampu memahami teks-teks Ibrani dengan baik. Di sisi lain, para pemimpin pun tetap ingin mempertahankan penggunaan bahasa Ibrani sebagai tradisi luhur mereka. Kenyataan ini mendorong para pemimpin menerjemahkan dan menjelaskan teks-teks Suci yang mereka baca (kumpulan hasil penjelasan itu disebut Targum). Upaya ini melahirkan apa yang sekarang kita kenal sebagai khotbah. Di hal ini, khotbah dimengerti sebagai upaya menjelaskan makna teks kepada pendengarnya.

Kekristenan awal yang memang pertama-tama menerima tradisi Yahudi (termasuk Ibadah), turut melanjutkan tradisi penjelasan teks itu. Hanya, yang menjadi berbeda, penjelasan itu lebih ditujukan kepada katekumen (peserta katekisasi yang mau menjadi kristen). Yaitu agar mereka semakin memahami Kitab Suci dengan baik sehingga imannya tidak mudah diombang-ambingkan. Di sini, khotbah dipahami perannya lebih sentral, yaitu sebagai media pembinaan jemaat.
Perkembangan besar terhadap praktik khotbah terjadi ketika Injil mulai diberitakan di kalangan orang-orang Yunani. Dalam dunia Yunani-Romawi, retorika (ilmu pidato) telah berkembang dengan pesat. Nama Aristoteles dan Cicero serta banyak lagi yang lain, dikenal sebagai orator-orator ulung. Perjumpaan dengan prinsip-prinsip retorika ini turut mempengaruhi bentuk khotbah gereja. Khotbah kemudian dipahami tak hanya sebagai media pembinaan, tetapi juga media solusi atas sebuah persoalan dan juga perdebatan umum. Dengan demikian,unsur keindahan kata-kata menjadi sangat penting. Dalam era ini, muncullah berbagai pengkhotbah besar yang sukar tertandingi kemampuannya. Misalnya Yohanes Chrysostomus, yang namanya berarti Yohanes si mulut emas. Terhadap kemampuannya berkhotbah, orang kemudian mencatat:
“Akibat gaya berkhotbah dan isi khotbahnya, banyak orang yang tertarik pada gereja, baik yang bukan-Kristen maupun yang telah meninggalkan pengajaran resmi dari gereja. Khalayak ramai lebih gemar menghadiri kebaktian di gereja tempat Chrysostomus berkhotbah ketimbang menonton atraksi di stadion.”
Kesaksian yang lain berkata:
“Adalah lebih baik Konstantin lenyap, daripada Yohanes Chrysostomus berhenti berkhotbah."

Di jaman Luther dan Calvin, khotbah juga dimanfaatkan secara maksimal sebagai media penyampaian ajaran-ajaran reformasi. Luther sendiri menyampaikan sampai 10.000 ribu khotbah yang hampir secara keseluruhan memuat pemikiran-pemikiran reformasinya. Bahkan dapat dikatakan seluruh tahapan hidup dan karya Luther tercermin pada khotbah-khotbahnya. Demikian juga Calvin, sehingga sejumlah orang menyimpulkan bahwa khotbah menjadi salah satu alat Calvin membangun jemaatnya.

 Makna Khotbah
Lalu bagaimana dengan praktik khotbah saat ini? Apa arti dan fungsi khotbah saat ini? Dua orang teolog Indonesia perlu kita simak jawabannya. Pertama, Martasudjita, teolog katholik yang menekuni liturgi. Ia mengatakan bahwa kotbah dapat dan harus mengubah hidup seseorang. Sebab kotbah memiliki kekuatan yang datang dari Tuhan. Lebih lanjut dituturkannya bahwa: “Sabda Allah yang keluar dari mulut Allah adalah sabda yang berdaya guna, yakni sabda yang tidak pernah kosong belaka. Sabda Allah itu memiliki daya dan kekuatan dinamis yang sanggup mengubah dan menghasilkan sesuatu.” Kedua, Eka Darmaputera, yang tersohor antara lain dengan khotbah-khotbahnya. Ia menyatakan “khotbah yang baik adalah kotbah yang jelas serta merangsang (mendorong) orang untuk mengambil keputusan secara sadar, bebas dan tepat.”

Dua orang tersebut menyatakan bahwa khotbah memiliki kekuatan yang mengubah pendengarnya. Dengan demikian, khotbah bukanlah sebuah upaya meneruskan tradisi belaka!
Di gereja kita, sesuai dengan buku pengajaran “Tumbuh Dalam Kristus”, khotbah dipahami sebagai bagian dari liturgi. Lebih jelasnya Tumbuh Dalam Kristus menyatakan:
Kebaktian adalah pertemuan yang istimewa antara Allah dan kita
Pertemuan antara Allah dan kita itu diwujudkan di dalam urutan-urutan liturgi kebaktian. Di mana Allah dan kita kedua-duanya mengambil bagian.

Misalnya di dalam pendahuluan kebaktian pemimpin kebaktian atas nama Allah menyampaikan salam berkat kepada kita, lalu kita jawab dengan amin. Kemudian kita mengakui dosa kita di hadapan Tuhan dan pemimpin kebaktian atas nama Allah menyampaikan berita pengampunan kepada kita. lalu Allah memberitakan kehendaknya melalui petunjuk-petunjuk hidup baru, dan kita menyatakan kesanggupan kita untuk melaksanakannya.

Allah berbicara kepada kita melalui firmanNya yang diberitakan di dalam khotbah, dan kita menjawab dengan pengakuan iman kita, doa kita, dan persembahan kita, dst.
Dari pemahaman di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa khotbah adalah tempat di mana Tuhan sendiri berkata-kata memberikan nasihat atau petuah. Sehingga khotbah memang menjadi sentral dan sakral bagi GKI. Pemahaman semacam menakutkan bagi pengkhotbah “awam.”
Yang sering sekali dilupakan orang adalah inti ibadah itu, yang seharusnya juga menjadi inti khotbah. Ibadah adalah sebuah pertemuan. Jika lagu-lagu dan bagian ibadah lain dibuat seolah-olah menjadi dialog, demikian juga seharusnya dalam kita melihat khotbah
Khotbah adalah juga dialog antara Tuhan dan manusia dengan segala realitas kehidupannya. Khotbah, bukanlah sebuah media langsung dari Allah, tanpa sentuhan unsur manusia di dalamnya. Tisdale, seorang pakar homiletika, justru mengatakan bahwa salah satu ciri khotbah adalah berorientasi pada pendengar (hearer-oriented). Dalam gambaran orat-oret kasar, khotbah yang sedemikian menjadi:
Pemahaman Praktis Khotbah Sebagai Dialog
Khotbah adalah sebuah dialog antar tiga unsur, pengkhotbah (dengan segala kemampuannya), Alkitab dan jemaat. Pengkhotbah, yang tahu siapa dirinya, menyampaikan khotbah sesuai dengan apa yang dimilikinya. Alkitab adalah sumber atau dasar penyampaian khotbah dan jemaat sebagai obyek sekaligus subyek khotbah.

Dengan demikian, untuk memulai peran menjadi seorang pengkhotbah, galilah potensi diri kita. Di sekitar kita telah banyak cara untuk menggali potensi diri. Upaya menggali diri amat penting. Sebab seringkali seorang pengkhotbah berupaya mengikuti potret orang lain. Sebuah contoh sederhana, kalau seorang tidak pandai melawak, jangan bercerita lucu! Atau, kalau sang pengkhotbah tidak bisa menghindari rokok, misalnya, jangan berkhotbah tentang rokok sebagai sumber dosa.
Lalu, Alkitab sebagai sumber atau dasar penyampaian khotbah perlu digali dengan cermat. Di sini buku-buku penafsiaran dapat membantu kita.
Hal yang kerap dilupakan adalah jemaat. Mereka sumber penting bagi penyampaian sebuah khotbah. Mereka tidak hanya menjadi obyek, tetapi adalah juga subyek khotbah. Sebagai contoh, seorang yang mau melayani khotbah penghiburan seharusnya bertanya terlebih dahulu hal-hal seputar almarhum/ah. Hasilnya bukan sekedar khotbah umum tentang Yesus sebagai kebangkitan dan hidup, tetapi menyentuh dan menghibur keluarga yang ditinggalkan.
Ketika jemaat menjadi subyek, mereka juga terlibat dalam pelaksanaan khotbah. Khotbah, dengan demikian, bukanlah sekedar tugas pengkhotbah atau bahkan pendeta saja. Persoalannya bagaimana cara melibatkannya? Misalnya, membentuk kelompok jemaat yang berupaya menggali kebutuhan-kebutuhan jemaat.
Ketrampilan-ketrampilan dalam menyampaikan Khotbah
Khotbah adalah pemanfaatan kata-kata. Justru karena itu dibutuhkan keterampilan merangkai kata-kata. Bagi seorang yang baru belajar (bahkan yang sudah berpengalaman) menuliskan khotbah secara lengkap dapat menjadi pilihan.

Di dalamnya sebuah khotbah terdapat 3 (tiga) unsur dasar yang menjadi garis besar. Yaitu pembukaan, isi dan penutup. Ketiganya adalah satu kesatuan yang utuh dan saling menunjang. Dengan membuat garis besar semacam itu, khotbah menjadi sistematis dan mudah dimengerti, baik oleh si pengkhotbah maupun pendengarnya.
Pembukaan, sering menjadi ice breaking. Ia menjadi jalan masuk bagi inti berita. Justru karena itu, pembukaan biasanya singkat, bernas dan kadang-kadang mencengangkan. Sehingga dapat menarik perhatian pendengar.
Isi menjadi inti khotbah. Berisi kupasan teks Alkitab yang berkait erat dengan kebutuhan jemaat. Justru karena itu dibutuhkan kemampuan menafsir dengan benar, baik teks Alkitab maupun realitas kehidupan jemaat. Mengutip banyak teks tidak berarti sudah menjadi pengkhotbah besar. Dari upaya menggali teks secara utuh, sampaikan beberapa pokok saja (semakin sedikit, semakin baik).
Penutup, menjadi kesimpulan akhir. Karena khotbah bukanlah sebuah indoktrinasi, biarkan kesimpulan itu terbuka, sehingga pendengar bisa mengaplikasikannya secara personal dalam hidupnya.
Selain itu, karena selama ini amat jarang digunakan media lain dalam khotbah(sekalipun amat menarik), setidaknya diperlukan 4 (empat) keterampilan dasar dalam menyampaikan khotbah:
 Suara yang jelas dan menarik, tetapi tidak dibuat-buat.
 Kontak mata, yang membuat pendengar merasa disapa (justru karena teks khotbah perlu dihapalkan).
 Postur (sikap tubuh) yang baik dan enak dilihat.
 Gerak yang menarik perhatian atau setidaknya tidak mengganggu.
Berkhotbah, seringkali dianggap sebuah talenta. Yang datang dari Tuhan. Menurut saya, khotbah adalah sebuah upaya. Seorang pengkhotbah yang baik, bukanlah yang mampu memainkan kata-kata dengan baik. Tetapi yang terus menerus berupaya meningkatkan diri. Justru karena itu, latihan dan latihan adalah cara yang terbaik.



***

artikel tentang khotbah. Yosia. bag 1

BAGAIMANA BERKOTBAH DENGAN PENUH KUASA?



BAB I .PENDAHULUAN


1. Persiapan yang baik

# Adanya persiapan sudah merupakan 50 % keberhasilan khotbah kita dan adalah merupakan syarat mutlak bagi setiap pengkhotbah. Seorang pengkhotbah yang tidak mempersiapkan diri, sudah berdosa membuang waktu yang berharga dan tidak dapat diganti bila sudah hilang, dan bisa menyebabkan pendengar hilang minat untuk datang mendengar khotbah lagi.

# Ketetapan bersama: Suatu khotbah yang berhasil harus dimulai dengan meminta pimpinan Roh Kudus mulai dari langkah pertama dalam persiapannya, dan bukan nanti ketika sudah hendak naik ke mimbar. Tanpa persiapan yang sungguh-sungguh adalah tindakan yang gegabah dan sia-sia paling sedikit, dan berbahaya serta bisa mengakibatkan kekecewaan dan bahkan kebinasaan jiwa si pengkhotbah dan pendengarnya.

# Sering kali kita mendengar pendeta berkata: “Saya serahkan saja bagaimana roh akan memimpin.” Itu adalah suatu semboyan dan sikap yang salah dan patut dihindari dan bukan diperbiasakan. Kecuali kalau anda sudah menjadi seorang yang sangat mahir dan berpengalaman serta terlalu sibut untuk mengadakan persiapan sampai mendetail. Terutama sekali bagi pemula, maka persiapan adalah sangat mutlak dan tidak boleh diabaikan

2. Bertanggung jawab atas tugas yang dipercayakan.

# Orang yang datang untuk mendengarkan anda berkhotbah berharap akan mendengar Firman Tuhan dan bukan cerita ngawur atau dongeng dari kita.

# Jam khotbah yang dalam bahasa Inggris disebut “Divine Service” adalah jam yang sangat penting dan berharga yang telah dipercayakan Tuhan kepada anda untuk diubah jadi nilai rohani yang kekal dan berakhir dengan keselamatan jiwa-jiwa yang mendengarkan anda.

# Berkhotbah adalah pelayanan yang ilahi dan serious, mungkin ada orang yang hanya sekali itu saja mendapat kesempatan mendengar khotbah. Give no less than your best! Anda harus memberikan tidak lain dari yang terbaik, dan bukan hanya pekerjaan cap jadi saja.



3. Motivasi khotbah yang benar

# Ingat bahwa anda bukan berdiri untuk mengadakan entertainment.

# Anda juga bukan bermaksud dan hanya memikirkan akan menerima amplop.

# Pun bukan untuk menerima pujian dan bukan pula untuk membangun popularitas melainkan untuk mengangkatkan dan memuliakan KRISTUS, dan untukk memecah-mecahkan tubuh Kristus yang dapat memberikan kehidupan.





































BAB II .JENIS-JENIS KHOTBAH


1. Khotbah Topical adalah khotbah yang disusun berdasar suatu topik yang diuraikan kedalam berbagai aspeknya dengan dasar-dasar ayat secukupnya.

# Khotbah doktrinal atau KKR dalam seri meeting( pengajaran, prinsip-prinsip ) sering mengambil bentuk Topical ini.

# Contoh : Topic: DOA YANG TIDAK TERJAWAB

I. Salah meminta - Yak 4:3

II. Dosa dalam hati – Maz 66:18

III. Meragukan firman Allah – Yak 1:6-7

IV. Pengulangan yang sia-sia – Mat 6:7

V. Ketidaktaatan kepada Firman Tuhan – Ams 28:9

VI. Kesalahan dalam hubungan suami isteri –1Pet 3:7


2. KhotbahTextual adalah khotbah yang disusun berdasar suatu teks ayat tertentu yang menjadi kerangka khotbah. Teks itu sendiri menjadi thema khotbah.

# Contoh:

Thema: Pengorbanan orang percaya ( Rom 12:1 )

I. Alasan pengorbanan: ‘Karena itu, saudara-saudaraku, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu’

II. Apa yang perlu dikorbankan: ‘mempersembahkan tubuhmu’

III. Syarat pengorbanan: ‘sebagai persembahan yang hidup kepada Allah’

IV. Pengorbanan sebagai suatu kewajiban: ‘itu adalah ibadahmu yang sejati’


3. Khotbah Expository artinya ‘menguraikan, membeberkan’.Khotbah Expositori adalah khotbah yang menguraikan suatu bagian Alkitab, sebuah kitab atau beberapa kitab dengan tujuan mengupas atau membentangkan garis-garis pikiran dalam alkitab itu.

# Uraian inti sebuah buku, contoh: Surat Ibrani

# Riwayat seorang tokoh: contoh: Barnabas – anak penghiburan

# Contoh:

Judul: Iman dan Kebutuhan manusia ( Mat 14:14-21 )

I. Tantangan untuk beriman – ay. 14-16

1. Alasan tantangan, ay. 14-15

2. Isi tantangan. – ay. 16

II. Kerja Iman – ay. 17-19

1. Tindakan iman yang pertama. ay. 17-18

2. Tindakan iman yang kedua – ay. 19

III. Pahala iman –ay. 20-21

1. Berkat pahala – ay. 20a

2. Besarnya pahala – ay. 20b-21





















BAB III. SIKAP DAN PENAMPILAN SAAT BERKHOTBAH


1. Berpakaian pantas serta rapih sebagai seorang yang berdiri sebagai wakil dari Allah yang Maha Tinggi.
2. Sikap diatas panggung:
berdiri tegak, tidak bongkok-bongkok, serta tidak mempunyai sikap orang yang minder. Mr. G.D. Thompson dekan Theologia ditahun 60-an dulu di UNAI mengajar, bahwa kalau kita sudah mengadakan persiapan yang secukupnya, maka kita harus merasa yakin bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang bahan yang kita sudah persiapkan itu. Kita harus menganggap semua hadirin itu adalah serombongan murid SD yang datang untuk mendengarkan pelajaran dari anda sebagai gurunya. Pandanglah lurus ke depan ditujukan kepada mata pendengar, bukan memandang ke plafon, atau dinding dikiri kanan ruangan, atau pun keatas lantai, seolah-seolah sedang mencari uang yang tercecer. Belajar untuk mengadakan gerakan tubuh secara alami dan bebas serta tidak kaku dan dibuat-buat. Jangan pula terlalu berkelebihan melainkan dengan gerakan tubuh yang bebas dan merdeka serta tidak kaku dan hanya sekedar bersandiwara.
3. Jangan berbicara seperti seorang tua renta yang kelelahan yang berbicara dengan suara yang rendah keluar dari leher anda yang terjepit.
4. Berbicaralah dengan tegas dan ucapkan kata demi kata sejelas mungkin.
5. Suara yang datar, monotonus, ngambang, tak bertenaga membuat orang kehilangan konsentrasi.
6. Perhatikan karakteristik mikrofon anda. Banyak mike sedemikian jeleknya hingga bila kabelnya bergeser di tanah mengeluarkan suara gesekan. Gulung sedikit kabelnya sebagai peredam suara gesekan itu dan genggam ditangan anda bersama mike yang anda pegang.
7. Jaga jarak mulut dengan mike hingga tak ada suara berdebam atau dengus dan desah di speaker karena letupan-letupan udara dari bibir anda atau suara nafas anda
8. Jangan pernah memulai dengan berkata: “Saya tidak tahu apa yang harus saya khotbahkan !” Ini bukan menunjukkan kerendahan hati, tapi kekonyolan. Kalau anda tidak tahu meau mengkhotbahkan apa, kenapa membuang waktu begitu banyak orang. Kenapa tidak ngaku sebelumnya dan minta orang lain menggantikan anda berdiri di mimbar?
9. Persiapan khotbah itu termasuk mempersiapkan lagu-lagu yang akan anda selipkan diantara khotbah atau yang dinyanyikan setelah khotbah. Juga bahan kesaksian apa yang anda hendak saksikan sebagai pendukung khotbah harus cukup dipersiapkan.
10. Siapkan pendengar anda dengan doa yang sungguh-sungguh dan cukup lama untuk menjadikan mereka sebagai tanah yang subur bagi taburan Firman Tuhan.



BAB IV .TUJUAN BERKHOTBAH


1. Perintah Tuhan.
Mark 16:15-16 And He said to them, "Go into all the world and preach the gospel to every creature. "He who believes and is baptized will be saved; but he who does not believe will be condemned.

2. Cara alkitabiah untuk menyampaikan iman
Rom 10:13-15 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"
Rom 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

3. Transfer roh
Yoh 6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.






















BAB V .PRAKTEK

 Bagi kelompok dalam group-group, 4 orang tiap group, seorang adalah ketua group.
 Tiap orang mendapat 20 menit berkhotbah, yang lain menilai dengan kertas penilaian.
 Dalam 15 menit terakhir adakan evaluasi bersama.
 Topic hari pertama : Bebas, beri yang terbaik dari yang anda punya.










***

bahan khotbah Yosia. 25.3.10

Bahan Khotbah
Nats : Galatia 6. 1-9
Tema : Saling Menanggung Beban dan Bekerja Keras Menghadapi Kesulitan Kita.
Introduksi : Seringkali kita memperhatikan semut2 yang mendapatkan makanan akan saling bertolong-tolongan membawa makanan tersebut ke sarangnya mereka, sama halnya bahwa, sadarkah anda atau pernahkah terlintas dalam benak saudara, bahwa permasalahan orang lain adalah beban yang juga harus kita perdulikan.
Proporsisi : Dinyatakan dalam ayat2 “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu ! Demikianlah kamu memenuhi hukum kristus”
Transisi : Jadi masihkan kita mempertanyakan berbagai macam alasan untuk saling menanggung beban sesama kita, Mengapa ?
MP 1 : Tuhan menghendaki umatnya hidup bertolong-tolongan dalam segala perkara (1 Yoh 4. 20 & imamat 21 : 18 -20)
SP : Dalam hal tolong-menolong menyangkut keteguhan hati, hati yang terbeban terhadap orang lain.
Ilustrasi : Olahraga lari Estafet Dan panjat Pinang
Transisi : Selain saling bahu-membahu menaggung beban adalah kita juga musti bekerja keras menaggulangi perkara kita, Benarkah ?
MP 2 : Tuhan menghendaki kita melangkah dengan iman & berusaha tidak bergantung pada orang lain ( Galatia 6 : 5 dan 2 Tesalonika 3 : 8)
Aplikasi : Saat ujian di kelas, sudah sepatutnya kita bekerja sendiri2 dan tidak mengandalkan orang lain.
Redudansi : Diperlukan rasa tolong menolong dan berupaya semaksimal mungkin dalam mengatasi kesusahan yang ada.
Kutipan : Dari peribahasa “ringan sama di jinjing berat sama dipikul”
Konklusi : Tuhan menghendaki kita menjadi pribadi yang tidak mudah putus asa, mau bekerja keras, bahkan harus bisa menolong orang lain.



By : Yosia Wongzulie

Jumat, 26 Maret 2010

Kerangka khotbah V.reny

Nats : 1Korintus4:11-17
Tema : Turutilah Teladanku !!!
Introduksi : Seringkali kita terinspirasi dengan orang-orangyang telah sukses lalu menjadikan mereka sebagai teladan dalam hidup kita, seperti meneladani :
- Orang tua_yang sukses merawat, mendidik & menjaga kita.
- Ciputra_yang sukses dalam bisnisnya
- Agnes Monica_yang sukses sebagai penyanyi ternama
Dalam surat Paulus kepada jemaatdi Korintus Ia berkata “Turutilah Teladanku!”(ayat16), teladan “hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus(ayat17b).
Proposisi : menuruti teladan Paulus tidak mudah, namun bukan mustahil.
Transisi : apa sajakah teladan Paulus tersebut ???
MP 1 : Memberkati sekalipun dimaki(ayat12b).
MP 2 : Sabar sekalipun dianiaya(ayat12c)
MP3 : Ramah sekalipun di fitnah(ayat13a)

Kerangka khotbah IV.reny

Nats : 1Raja-Raja9:1-9
Tema : Hukum Sebab-Akibat
Introduksi : Bagi Saudara-saudara yang sudah lulus Sekolah Menengah Pertama(SMP), pasti telah mempelajari tentang hubungan kausal_sebab-akibat dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Bahwa hal apapun akan menyebabkan terjadinya suatu akibat, baik negatif maupun positif. Begitupun hidup kita, selalu ada akibat dari sebab yang kita buat.
Proposisi : Kita harus hidup positif(sebab), bukan negatif(sebab),
Transisi : apa akibat hidup positif dan negatif tersebut ???
MP 1 : Positif(ayat4).
Hidup positif berarti hidup sesuai kehendak Tuhan, tetap berad dijalan-Nya
SP I : Tuhan akan meneguhkan tahta kerajaan kita(ayat5)
Tahta kerajaan kita dapat berarti kehidupan kita dengan semua aspeknya. Dalam Tuhan kita akan tetap teguh/sukses/tidak jatuh.
MP 2 : Negatif(ayat6)
Hidup negatif berarti berpaling dari Tuhan.
SP II : Tuhan akan melenyapkan kita(ayat7).
Berarti Tuhan tidak akan mempedulikan kita. Kita lenyap_hancur tanpa uluran Tangan-Nya